PERGI! (KENANGAN YANG TERSISA)

Entah sejak kapan aku menjadi secengeng ini. Entah kapan terakhir kali aku menangis. Entah kapan terakhir kali aku bersedih. Air mata ini mengalir begitu saja, tanpa bisa kukendalikan. Dadaku terasa penuh dan sesak. Entah perasaan apa lagi yang memenuhi dadaku. Yang pasti perasaan ini sudah cukup memenuhi dadaku.

Padahal baru saja kau datang kepadaku dengan senyummu yang ramah. Padahal baru saja kau menjawab salamku, menyapaku dengan sapaan tulusmu. Padahal baru saja kau meminta maaf kepadaku. Semua terasa begitu cepat. Semua terjadi begitu saja, tanpa terasa.

****

SMA!

Setelah melalui masa “membosankan” selama  3 tahun, akhirnya! Selamat tinggal putih biru! Selamat datang putih abu-abu!

Masa “yang katanya” masa yang paling indah. Masa yang tidak akan terlupakan. Masa dimana mulai mengenal wanita. Masa dimana persahabatan terasa sangat kental.

Aku sih biasa saja menghadapi isu-isu tersebut. Lebih tepatnya tidak acuh terhadap isu tersebut. Ahh, toh semua itu hanya isu. Masa bodoh!

****

Hari ini adalah hari Selasa. Pelajaran perdana pada hari ini adalah matematika. Entah mengapa, aku suka sekali pada pelajaran ini mulai dari Sekolah Dasar (SD). Mungkin sudah menjadi bakat yang diturunkan oleh ibuku kepadaku. Akan tetapi, bakat ini tidak membuatku rileks di pelajaran pertamaku ini. Mungkin karena ini merupakan pelajaran pertamaku pada tahun pertamaku ini. Yah- beginilah aku.

Pelajaran logaritma adalah pelajaran perdanaku. Kelasku dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Terus terang, tak ada sama sekali yang kukenal dari teman satu kelompokku itu. Aku coba untuk membaur dengan mereka, meskipun sifat “malu-malu”ku masih sangat terasa. Aku beranikan memperkenalkan diriku sendiri, lalu yang lain mengikuti. Akan tetapi, ada teman satu kelompokku yang terlihat enggan memperkenalkan diri. Dia adalah seorang perempuan. Pada saat itu, aku tak berani memandang wajahnya. Terus terang, aku akan sangat bodoh apabila sudah berhadapan dengan perempuan. Entah seperti apa wajahku pada saat itu. Kulihat tulisan nama yang terpampang di kerudungnya. Nina. Hanya nama depannya saja yang kuingat pada saat itu karena kupikir itu adalah nama panggilannya.

****

Memori masa itu tiba-tiba menyeruak tidak seronok keluar dari kepalaku. Seakan-akan tidak mampu lagi ditahan di dasar hati yang paling dalam. Memori ini hanya membuatku semakin sesak. Memori yang yang menceritakan tentang pertemuan awalku dengannya. Memori yang menceritakan tentang love at first sight

Tak terasa air mataku mengalir lagi. Sial! Bisakah kau berhenti menangis! Menangis pun tak berguna! Toh, tidak ada yang berubah. Aku mengumpat-umpat diriku sendiri yang tidak bisa memaafkan kepergiannya, tidak bisa menerima kenyataan. Aku tak bisa kehilangan dirinya. Aku tidak bisa kehilangan senyumannya, untuk selamanya.

****

Tak terasa sudah tiga bulan aku duduk di SMA ini. Semua berlalu begitu cepat. Ulangan demi ulangan, remidi demi remidi, berlalu begitu cepat. Akan tetapi, dunia terasa sangat lambat apabila aku berada di dekatnya, di dekat Nina. Wajahnya yang teduh, senyumannya yang mendamaikan hati, tingkah lakunya yang feminin, tidak bisa lepas dari pandanganku. Semuanya selalu membekas di dasar hatiku. Apakah aku jatuh cinta? Who knows?

Aku tak berani memandangi wajahnya yang teduh itu terlalu lama. Jujur saja, mukaku akan langsung “tak berbentuk” jika berhadapan face-to-face dengan wanita manapun. Apalagi dengan dia, Nina. Aku hanya berani memandangi punggungnya yang tertutup oleh kerudungnya sambil membayangkan wajahnya yang tersenyum teduh kepadaku. Aku alihkan pandanganku sejauh-jauhnya ketika dia menyadari bahwa aku sedang memandanginya.

Pernah suatu saat, aku memandangi punggungnya dari belakang. Tiba-tiba, ia mengalihkan pandangannya kepadaku. Langsung saja aku bertingkah seakan-akan membaca buku yang ada di hadapanku, pura-pura membaca. Dia jalan mendekat ke arahku. Mati aku! Dia tahu apa yang kulakukan, umpatku dalam hati. “Dik, bisa pinjam catatan matematika kemarin?.” Eh? Alhamdulillah dia tidak tahu apa yang kulakukan barusan, ucapku lega dalam hati.

****

Sampai saat ini aku tak tahu, apakah dia tahu apa yang kulakukan saat itu. Memandangi punggungnya, sambil membayangkan wajahnya yang teduh tersenyum kepadaku. Aku tak pernah tahu hingga saat ini. Entah, semuanya sudah terlambat atau kita tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu. Kau selalu datang di saat yang tidak tepat.

Kupandangi langit yang tidak ada batas. Hanya senyum sinis rembulan yang terbersit di langit malam ini. Senyuman rembulan itu seakan-akan menghinaku habis-habisan dari tempat yang jauh. Hei kau! Sedang apa kau disitu? Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri, bodoh!

Air mataku meleleh lagi. Sial! Berhenti menangis! Dia tidak ingin kau bersedih seperti ini, pikirku sejenak. Ahh, mana mungkin dia berpikir seperti itu. Menghiraukanmu saja tidak, kata pikiranku yang lain. Diamlah! Tidak penting, dia peduli atau tidak. Yang pasti dia sangat membutuhkan doa kita, ujar pikiranku yang lain menengahi.

****

Satu semester terlampau sudah. Semua nilai pelajaran sudah ditumpahkan ke dalam raport. Nilaiku sih tidak seberapa bagus di bidang IPS maupun IPA. Entah mengapa pelajaran IPS selalu membuatku malas. Malas menghafal, malas mengerjakan soal sampai malas mengerjakan tugas-tugas pelajaran IPS. Pada bidang IPA, nilai biologiku adalah nilai yang terjelek di dalam raportku kali ini. Pelajaran hafalan membuatku muak. Tidak ada hitungan sama sekali. Entah ini yang disebut bakat atau apa. Yang pasti aku selalu malas dihadapkan dengan pelajaran hafalan.

Selepas semester satu ini, aku tak pernah memikirkan Nina lagi. Dia sudah dengan yang lain dan itu sahabatku sendiri. Sangatlah tidak mungkin menyukai perempuan yang sama dengan sahabatku sendiri. Namun, kekagumanku tetap sama seperti awal pertemuan. Kagum akan kelembutannya, kagum atas senyuman teduhnya, dan kagum atas kepribadiannya.

Selama satu semester ini, ternyata juga ada yang menyimpan perasaan kepadaku, yang pasti bukan Nina. Dia teman sekelasku. Dia yang menyatakan cintanya kepadaku. Aku yang baru pertama kali “ditembak” oleh seorang perempuan, bingung harus menjawab apa, harus berkata apa. Damn! Apakah dia benar-benar mencintaiku? Apa sih cinta itu? Untuk apa bocah ingusan seperti aku dan dia harus mencinta? Apakah mencintai berarti berpacaran? Sebenarnya, apa yang dia sukai dari seorang bocah ingusan semacam diriku? What are true lovers mean?

****

Langit pun ikut menangis. Air mata sang langit jatuh membasahi bumi seketika. Seakan mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Aku yang sedari tadi duduk di teras rumahku, tidak bergeming melihat hujan itu. Entah aku sedang menikmati suara hujan yang mendamaikan atau menerawang jauh kesana. Membayangkan, sedang apa dia disana? Apakah dia bahagia? I hope so.

Aku tetap merenung menatap air hujan yang tak ada hentinya jatuh ke permukaan bumi. Membasahi semua yang menghalangi air hujan untuk menuju bumi. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku bingung sekaligus menjadi linglung seketika. Mengapa tidak aku balas saja sms terakhirnya itu? Mengapa aku tak bisa memaafkannya pada saat itu? Aku memaafkanmu dari lubuk hatiku yang paling dalam, Nina, bisikku lirih.

****

Tahun pun berganti tahun. Aku mulai melupakan Nina. Memang tak bisa kupungkiri aku masih mengaguminya. Akan tetapi, dia sudah bersama dengan orang lain, sahabatku sendiri. Kita terpisahkan oleh kelas. Nina tak lagi teman kelasku. Sepertinya ada pengacakan di tahun keduaku ini. Hanya beberapa anak yang berasal dari kelasku, yang lainnya berasal dari kelas-kelas yang lain. Aku terasing? Tidak! Aku dipertemukan oleh sahabat kecilku. Reza. Dia memang sahabat kecilku yang tidak pernah berubah hingga kini. Tetap baik kepadaku. Selain itu, sahabatku yang “kutemukan” di tahun pertamaku juga menjadi teman sekelasku tahun ini, yaitu Nurul.

Ada ”keajaiban” yang terjadi di tahun kedua ini. Aku ditunjuk menjadi ketua kelas! Apa lagi ini? Jujur, aku memang senang mengikuti kegiatan-kegiatan, tetapi aku paling malas ditunjuk menjadi ketua. Akan tetapi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Yah- aku “terpaksa” menjalaninya sekuat tenagaku.

Di tahun keduaku ini, di tahun pertamaku memimpin kelas ini, terjadi banyak kejadian yang tak terlupakan. Teman-teman baruku ini mulai menunjukkan “kulit”-nya masing-masing. Terlihat jelas, bagaimana watak dan perangai mereka. Kelasku ini menjadi tidak kompak. Semua sibuk mengejar nilai masing-masing demi mengejar PMDK “yang semu”. Ada lagi yang mencari gara-gara dengan menghina semua anak yang ada di kelasku. Entah, apa ini kesalahanku atas kepemimpinanku atau teman-teman yang terlalu egois dan keras kepala. Yang jelas, aku bisa disebut “gagal” dalam memimpin teman-temanku.

***

Kurasakan bibirku membentuk senyuman yang agak dipaksakan karena mengingat masa kepemimpinanku pada saat SMA. Memang anggota kelasku seperti memberikan “mosi tidak percaya” padaku. Pasalnya, aku memang tipe orang yang tidak ingin repot. Tunggu dulu. Tidak ingin repot? Mengapa aku menolongnya saat itu? Mengapa aku bertingkah bak malaikat penolong saat dia (mungkin) tidak membutuhkan pertolongan?
Aku menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak yang mulai menjalari nafasku. Sudahlah, dia sudah ada di dunia yang tidak mungkin aku sampai kepadanya kecuali mengalami hal yang sama dengannya. Mati.

***

Lagi sibuk?

Kata-kata yang kukirimkan kepada Nina dalam bentuk pesan singkat atau yang biasa disebut Short Message Service (SMS).

Tidak lama kemudian ponselku berdering tanda ada pesan singkat yang masuk.

Enggak kok. Ada apa?

Ehmm, gini Nin. Aku mau minta tolong, bisa?

Kuketikkan kata-kata yang sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan Nina. Aku tidak ingin menyinggung perasaan orang, apalagi perempuan.

Oke, apa yang bisa aku bantu?

Bisa titip print tugas fisika untuk besok? Maaf ya sudah merepotkan. Balasanku terhadap pesan singkat Nina.

Oke, kirimin lewat e-mail aja ya. Aku tunggu sampai jam 9. Oh iya, boleh tanya gak?

Kubaca pesan singkat dari Nina lekat-lekat. Dia ingin bertanya? Tentang apa ya kira-kira? Jari-jariku bergerak secara spontan untuk merespon pesan singkat tersebut.

Terimakasih ya Nin. Kamu memang baik. Aku minta maaf ya kalau sudah merepotkanmu. Boleh, mau tanya apa?

Oh iya, sama-sama ya Dik. Enggak merepotkan kok Dik. Tenang saja. Kamu sebenarnya naksir siapa sih?

Degg. Mati aku! Pikirku. Jawaban apa yang harus kuberikan? Memang aku dengan Nina sudah sangat dekat sehingga tanpa malu menceritakan kehidupan pribadi masing-masing, termasuk masalah cinta. Akan tetapi, mengapa pertanyaan ini muncul begitu saja dalam pikiran Nina? Nina tidak salah, aku lah yang seharusnya salah. Sudah mencintai Nina.

Ingin kuketikkan Sebenarnya, kamu lah yang aku sukai. Akan tetapi, kuurungkan niatku. Aku tak ingin mengganggu konsentrasinya dan konsentrasiku sendiri dalam menghadapi Ujian Nasional nanti. Karena Ujian Nasional inilah yang menentukan nasibku kelak, lulus atau tidaknya aku dari SMA ini.

Ahh kamu. Mau tau saja. Nanti saja setelah semuanya beres, pasti aku kasih tau.

Entah apa yang ada di kepalaku pada saat itu. Semua terjadi begitu saja. Jari-jariku bergerak tanpa aku sadari.

Ohh, ya sudah kalau begitu.

***

Seketika leherku serasa tercekat. Nafasku sesak untuk sekian kalinya. Tubuhku lemas seakan akan tak sadarkan diri. Air mataku meleleh lagi mengingat hal bodoh yang sudah aku janjikan kepadanya. Janji mengatakan yang sebenarnya. Aku Cinta Kamu.

Apakah tiga kata ini akan ditagih pada saat hari pembalasan nanti? Ya Allah, saya mohon ampun. Ampunkanlah dosa-dosa saya. Air mataku meleleh lagi tetapi kali ini leherku tidak tercekat lagi dan nafasku kembali normal. Hamba ingin mengatakannya tetapi… tetapi…
Ampunilah hamba ya Allah…….

***

Hujan mulai reda. Matahari mulai menampakkan wujudnya meskipun setengah malu-malu dari balik awan gelap. Burung-burung mulai bernyanyi kembali. Anak-anak kecil yang sedari tadi berada di rumah mereka masing-masing sudah mulai berhamburan keluar lagi untuk bermain bersama-sama.

Ya Allah, inikah kebesaran-Mu. Engkau menciptakan segala sesuatumnya secara berpasang-pasangan. Ada gelap, ada terang. Ada hitam, ada putih. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada hidup, ada mati. Ada sedih, tentu ada bahagia.

Awan hitam mulai menghilang. Mungkin inilah saatnya melupakan kesedihanku laksana hilangnya awan gelap yang menyelimuti seantero bumi ini. Mungkin inilah saatnya aku memandang masa depan yang tentunya menyenangkan. Ya, harapan itu masih ada selama aku masih hidup di bumi ini. Aku harus bisa melakukan yang terbaik di bumi ini. Selamat tinggal Nina, semoga amal dan ibadahmu diterima di sisi Allah. Semoga kita dapat bertemu di surga Allah kelak untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadapmu. Semoga janjiku yang belum sempat aku tepati dapat di maafkan oleh Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

0 comments:

Post a Comment



Label

About Me

My photo
Hello cold world! I'm Adnyana. 17 years old. Ready to subjecting the world!

Blogroll

Label

Blogger templates

Blogger news