Pergi!


Hari ini mungkin adalah hari terburukku. Sepeda motorku yang baru saja aku beli sekitar dua bulan yang lalu, tiba-tiba mogok di tengah jalan. Saat sampai di sekolah, tak sengaja aku menabrak guru. Dan tebak siapa yang aku tabrak. Pak Parno! Guru yang paling ditakuti di sekolah ini. Memang sih aku sudah tidak menjadi siswa sekolah ini, tetapi "aura pembunuhnya" masih terasa menusuk dada.

"Maaf Pak. Saya tidak sengaja. Saya sungguh menyesal Pak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menabrak......"

"Sudahlah Nak. Tidak apa-apa. Bapak tidak apa-apa. Sekolah dimana sekarang kamu Mas?"
Mendengar reaksi Pak Parno itu, aku hanya bisa tertegun bergeming. Terjadi keheningan sejenak, sebelum Pak Parno mengagetkanku.

"Nak, ditanya kok malah melamun."

"Oh iya Pak. Maafkan saya Pak. saya hanya pangling melihat Bapak. Alhamdulillah ITS pak. Jurusan Sistem Informasi."

"Oh, alhamdulillah. Pangling kenapa Nak?"

"Ehmm. Tidak Pak. Penampilan Bapak sangat berbeda dengan penampilan 3 tahun yang lalu."

"Hahaha. Berbeda apanya Nak. Saya tidak merasa berbeda. Seperti inilah aku."

"Hehehe. Iya Pak. Aku duluan ya Pak. Sudah tidak tahan ini. Mau ke kamar mandi,” aku tak tahu mengapa aku mengatakan ingin ke kamar mandi. Aku tidak benar-benar kebelet. Aku hanya mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi banyak perbincangan dengan Pak Parno. Malas.

"Oh iya Nak. Silakan. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

****

"Assalamu'alaikum...."

Belum sempat aku menyelesaikan salam, seorang perempuan yang sedang duduk di ruang tamu menjawab salam aku sambil tersenyum.

"Wa'alaikumsalam."

Sepertinya aku pernah melihat perempuan ini. Apakah dia perempuan dari masa lalu? Atau hanya sekedar tamu Ibu yang lainnya? Terjadi keheningan sesaat. Mungkin, karena kami berdua saling menerka-nerka. "Siapa ya nama orang ini?"

Sial! Perempuan ini memang dia! Seseorang dari masa lalu! Seseorang yang ingin kuhapus eksistensinya dalam pikiranku. Akan tetapi, mengapa dia tiba-tiba muncul di hadapanku? Yang lebih mengherankan lagi, sejak kapan ia menjadi peduli kepadaku? Sejak kapan ia peduli membalas salamku?

"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya perempuan yang bernama Nina ini, sambil melempar senyum bersahabat.

"Baik," jawabku dengan muka datar.

Aku tak tau harus berkata apa. Aku tak tau harus senang ataupun benci. Senang karena akhirnya aku bertemu dengan dia lagi. Benci karena bertemu dengan seseorang yang telah menggoreskan catatan kelam di dalam lembar hidupku.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Nina lagi.

"Perempuan ini, mengapa menjadi ramah seperti ini? Mengapa tidak daridulu kau ramah seperti ini?," gerutu aku di dalam hati.

"Dik?," tanyanya penasaran.

"Oh, maaf. Alhamdulillah baik-baik saja," jawabku masih dengan muka datar.

"Bagaimana, sudah punya cewek?," tanyanya lagi seakan-akan ia tidak memperbolehkanku untuk melepas jaketku.

"Hei! Apa maksudmu bertanya seperti itu?," jawabku dengan nada meninggi. Entah mengapa aku merasa tersinggung dengan pertanyaan itu.

"Ehmm, maaf. Maafkan aku," jawabnya dengan muka bersalah karena takut membuatku tersinggung.

Mengapa semua ini terbalik? Bukannya aku yang selalu minta maaf dan dia selalu marah kepadaku? Aku yang semakin tidak mengerti ini, langsung mengambil langkah seribu ke dalam kamarku yang letaknya kira-kira 2 meter di sebelah kanan ruang tamu.

"Dika!"

Tidak kuhiraukan suara perempuan itu. Aku tetap berjalan setengah berlari menuju kamarku yang terletak di sebelah kanan ruang tamu.

Bruaakkkk!

"Astaghfirullah!," ujar Nina setengah terkejut.

"Sudah, Nak Nina. Dika memang suka begitu sepulang sekolah. Maafkan Dika ya," kata Ibuku yang tiba-tiba ada di sebelah Nina.

"I..Iya Bu. Aku tidak apa-apa kok," jawab Nina sambil mengatur nafas akibat gebrakan pintu tadi.

"Silakan diminun tehnya. Keburu dingin lho," kata Ibu seolah menenangkan Nina yang masih terkejut.

"Oh iya Bu. Maaf lho Bu, aku merepotkan Ibu," uar Nina sambil meminum teh yang sudah agak hangat.

"Ahh tidak apa-apa Nak Nina. Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Nak Nina datang kesini?"

"Oh, tidak ada apa-apa. Aku hanya kangen bertemu dengan Ibu setelah hampir 4 tahun tidak bertemu," jawab Nina.

"Oh, aku juga kangen dengan Nak Nina. Sudah lama tak bertemu, eh, besar-besar masih tetap cantik," pujian Ibu yang ini membuat muka Nina seketika memerah.

"Ahh, Ibu bisa saja. Oh iya Bu, aku pamit dulu ya Bu. Kapan-kapan kita sambung lagi percakapan ini. Aku mau ada meeting sekitar jam 11," kata Nina sambil beranjak dari tempat duduk.

"Lho kok tergesa-gesa begitu. Iya sudah, ibu juga mau melanjutkan masak," jawab Ibu dengan nada yg hangat.

"Hehe, iya Bu. Maaf lho Bu, sudah mengganggu pagi-pagi begini."

"Halah, tidak apa-apa Nak Nina. Ibu juga kangen dengan Nak Nina."

"Yasudah Bu, aku pamit dahulu. Assalamu'alaikum," pamit Nina sembari mencium tangan Ibu.

"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya Nak."

"Iya Bu," ucap Nina sambil berlalu.

*****

Handphone aku tiba-tiba berdering. Aku ambil handphone aku tepat di bawah bantal aku. Ada SMS, gumamku. Nomor yang tidak dikenal.

Assalamu'alaikum Andi. :)

Pesan itulah yang terpampang di layar handphone aku. Dengan sigap aku balas.

Siapa?

Handphone aku berdering lagi.

Nina.
Maaf mengganggumu tadi dan sekarang.

Tak kuhiraukan sms Nina yang terakhir ini. Ahh perempuan ini mengganggu saja! Gerutuku dalam hati, sambil kupasang headset favotitku yang berwarna putih. Kumainkan lagu-lagu Paramore, salah satu band favoritku.

Belum selesai lagu Ignorance menghentak di telinga, handphoneku berdering lagi. Kuambil handphoneku dengan malas. Pasti anak itu lagi!

Aku minta maaf ya.

Aku tetap tidak menghiraukannya. Aku tetap tidak membalas smsnya. Malas. Terlambat sudah. Dia berubah disaat aku sudah tak tertarik lagi padanya. Entah benar-benar 'berubah' atau hanya perasaanku saja. Yang kutahu dia sangat berbeda dengan dia pada saat menjadi siswi putih abu-abu.  Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Entah apa yang kupikirkan pada saat itu. Dia berasal dari keluarga yang terbilang ‘berlebihan’ dan aku hanyalah anak yang terlahir di keluarga yang biasa saja. Bisa dibilang dia adalah anak yang cuek dengan keadaan sekitar. Selalu saja dia sibuk sendiri mengerjakan sesuatu, tidak menghiraukan yang lain.

Sial! Dia mulai ‘meracuni’ pikiranku! Enyahlah! Gerutuku dalam hati.

Kunyalakan headsetku keras-keras. Kuputar lagu Avenged Sevenfold, salah satu band metal asal Amerika yang menjadi favoritku. Aku ingin melupakan dia. Membuang jauh-jauh semua tentang dia. Memang sih semua dapat kulakukan. Akan tetapi, ada satu hal yang sampai saat ini tak bisa kubuang. Senyumnya. Entah mengapa, aku sangat tertarik pada senyumnya. Mungkin dia terlihat cuek pada sekitar, tetapi senyumnya dapat ‘menutupi’ kecuekannya.

Senyum itu lagi! Enyahlah! Gerutuku semakin keras.

****

Mengapa Dika berubah menjadi seperti itu ya? Dika yang kutahu adalah Dika yang baik, sabar, dan murah senyum. Akan tetapi mengapa dia menjadi seperti itu? Sejak kapan dia menjadi seperti itu. Memangnya apa salahku?

Sambil melesakkan mobilnya, Nina terus memikirkan Dika. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Dika.

Aku minta maaf ya.

Sambil menyetir, Nina sempatkan untuk mengirim pesan kepada Dika. Pesan yang berisi permintaan maaf yang tulus. Meskipun tak tahu Dika menerima maafnya atau tidak, Nina tidak peduli. Nina hanya bisa meminta maaf yang entah mengapa meminta maaf bisa membuat hatinya lebih tenang. Tak ada yang tau bahwa itu adalah sms Nina yang terakhir. Permintaan maaf yang terakhir sebelum pergi. Pergi untuk selamanya.

****
Aku terbangun oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela. Astaghfirullah! Aku kesiangan!

Langsung kuambil wudhu, dan langsung melaksanakan sholat subuh. Ini tidak biasa. Seriap hari aku selalu bangun sebelum subuh. Baru kali ini aku bangun sesudah matahari terbit. Ada apa ini? Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini.

Aku ambil handphoneku yang terletak di meja sebelah kanan kasurku. Entah mengapa kulakukan hal ini. Mungkin sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi setelah bangun tidur.

Kulihat layar handphoneku. Ternyata ada sms yang dikirim sekitar jam 2 pagi.

Maafkan aku ya.

Orang ini lagi. Sudahlah! Gerutuku dalam hati. Bisakah dia tidak menggangguku?

Aku keluar dari kamar menuju ruang tamu yang terletak di sebelah kiri untuk menonton TV. Hal ini pun secara spontanitas begitu saja. Rasanya seperti digerakkan oleh Sesuatu Yang Maha Besar.

Belum sampai ruang tamu, aku mendengar suara tangis yang terdengar tidak jauh dari ruang tamu. Kutelusuri suara tangisan itu. Suara tangisan yang tidak asing lagi. Tangisan ibu yang sudah melahirkan dan memesarkanku. Tangisan ibuku.

Ada apa ibu menangis? Apa ada yang menyakitinya? Apa aku yang membuatnya menangis?

"Nina..... Nak..... Nina.....", ibu mulai berbiara sambil sesenggukan yang sedikit menyesakkan dada.

"Ada apa Bu? Ada apa dengan Nina?," meskipun aku tak peduli apa yang terjadi padanya. Aku ingin membuang jauh-jauh memori tentang dirinya.

Ibu diam sambil sesenggukan. Tidak menjawab apa yang terjadi sesungguhnya. Ibu malah menyodorkan koran.

Seorang Wanita Tewas Secara Tragis
Seorang wanita yang berinisial Nn (20), tewas di tempat akibat kecelakaan. Kejadian terjadi sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian seorang sopir truk yang mengantuk. Menurut saksi, mobil hitam yang dikendarai Nn melaju dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Lalu dari arah berlawanan, datang truk yang melaju sekitar 60 km/jam dengan cara mengemudi yang aneh........

Tak terasa air mataku meleleh sampai ke pipi. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Sesak sekali. Ketidakpedulianku tiba-tiba hilang seketika. Kebencianku yang memuncak pada saat itu, tiba-tiba hilang entah kemana. Hanya menyisakan rasa sesak dan sakit di dada.

Mengapa kau pergi begitu cepat? Padahal baru saja kau peduli padaku. Padahal baru saja kau tersenyum padaku. Air mataku meleleh lagi.



Label

About Me

My photo
Hello cold world! I'm Adnyana. 17 years old. Ready to subjecting the world!

Blogroll

Label

Blogger templates

Blogger news