Sesaat...
Sesaat perasaan itu kembali menyeruak di dalam kalbu. Meski setitik, meski kecil, sesaat kemudian menjadi besar kembali. Aku hanya ingin menjalankan perintah-Mu. Mengapa sesakit ini? Aku tahu rasa sakitku ini tidak sebanding dengan pejuang-pejuang Palestina, anak-anak remaja di sana. Apalagi dibandingkan dengan rasa sakit dan penderitaan nabi dan rasul dan para pendahuluku.
Aku hanya mencoba bertaubat, dari dosa-dosa yang biasanya aku lakukan. Perlahan, satu per satu. Akan tetapi dosa yang dilakukan oleh hati ini, sudah terlalu sering, sudah terlalu mendalam. Aku ingin bangkit, keluar dari lubang yang dalam dan membekas di hati. Berat memang rasanya, tapi aku harus lakukan ini. Hanya demi menaati perintah-Mu dan mencari ridho-Mu.
Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang lalu. Kesalahan yang aku perbuat tanpa berfikir. Aku hanya menuruti hawa nafsuku dengan jatuh cinta kepadamu. Kita tidak bisa bersama saat ini, karena itu adalah perintah Allah. Apakah pantas, kita yang kecil ini membantah bahkan melanggar perintah Sang Maha Pemilik Kehidupan, Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?
Aku akan terus menyibukkan diriku. Agar kenangan itu, wajah itu, senyum itu tidak selalu menyeruak di dalam pikiranku. Meski berat, akan aku lakukan. Semua hanya demi DIRIMU Ya Allah.
Ya Allah, kuatkanlah hamba-Mu yang lemah dan berlumur dosa ini. Agar selalu berada di dalam jalan-Mu.
Aamiin.
Wednesday, January 23, 2013 | | 0 Comments
Bhineka Tunggal Ika. Berbeda Tapi Tetap Satu Jua.
Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya. Ya mungkin ada yang sudah tahu, mungkin juga ada yang belum tahu. Sekedar informasi, saya adalah alumni STAN yang notabene mahasiswanya majemuk, berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Dengan berkuliah disana, saya paham ada suatu masalah yang melanda masyarakat Indonesia. Masalah yang sangat mendasar yaitu masalah persatuan, dan kebangsaan Indonesia.
Maaf, saya berbicara sedikit 'berat' kali ini. Jujur saja, saya sedikit kesal akhir-akhir ini. Mengapa? Waktu saya di STAN, sadar atau tidak, para mahasiswa membentuk kelompok sesuai dengan ras atau suku. Selain itu, adik saya yang sekarang bersekolah di Malang, maaf saya tidak bermaksud merendahkan kota kalian, saya yakin itu adalah oknum semata, dikatain oleh temannya sendiri. Kon iku ilingo, kon duduk arek Malang c**! (Kamu itu sadar diri, kamu itu bukan orang Malang c**!)
Saya sampai mengelus dada (dada saya sendiri tentunya) dan cuman bisa geleng-geleng. Kita masih satu negara! Indonesia! I-N-D-O-N-E-S-I-A! Ya, INDONESIA! Mengapa harus mementingkan daerah masing-masing? Mengapa tidak mau berteman selain dari suku kalian? Mengapa tidak mau mengenal orang selain dari suku kalian? Mengapa kita terpecah-pecah? MENGAPA?
Apakah karena kalian berbeda budaya? Lantas, apakah itu pantas dijadikan sebagai alasan untuk tidak berteman, tidak bergaul, bahkan menjauhi orang-orang yang bukan dari daerah atau suku kita? Mas-mas, Mbak-mbak, Bapak-bapak, dan Ibu-ibu yang saya cintai dan kasihi. Pernahkah kalian membayangkan bagaimana jika kita diciptakan oleh Sang Pencipta sebagai makhluk yang homogen, semua manusia laki-laki atau semua manusia perempuan atau yang lebih ekstrem lagi semua manusia bersuku Jawa atau semua manusia berkulit hitam? Pasti lah sangat membosankan, sangat hhhhhh, saya tidak bisa membayangkan.
Yang pasti Sang Pencipta sudah menghitung semuanya dan mempertimbangkan semuanya, bahwa perbedaan itu indah. Perbedaan itu mengasyikkan, dan tentunya tidak akan membuat kita bosan. Kita akan terus menjumpai berbagai budaya baru, berbagai orang baru dengan sifat mereka masing-masing yang berbeda-beda tentunya, bahasa baru, bahkan daerah baru dengan suku yang belum pernah ditemui sebelumnya. Bersyukurlah kita diciptakan berbeda satu sama lain. Apakah cukup dengan bersyukur? Saya rasa bocah SD yang masih ingusan pun menjawab tidak. TIDAK! Kita harus menghargai perbedaan itu, kita harus memaklumi perbedaan itu dengan cara saling bertoleransi.
Sekali lagi saya tekankan, KITA MASIH HIDUP DI DALAM SATU ATAP, INDONESIA. PANTASKAH ORANG DALAM SATU ATAP SALING BERTIKAI?
Hampir lupa, setahu saya dari zaman kita SD bahkan TK di depan kelas sudah dipajang lambang negara kita, Garuda. Apa saja yang ada pada lambang Garuda itu? Gak hapal atau gak tau? Ada kepala banteng, pohon beringin, bintang, padi dan kapas, dan rantai. Masih ada lagi, tulisan BHINEKA TUNGGAL IKA. Lambang-lambang itu tentunya memiliki arti masing. Saya tidak akan membahas satu-satu, tentunya tidak akan pernah selesai. Saya akan membahas salah satu simbol saja, yaitu BHINEKA TUNGGAL IKA.
Saya rasa semua sudah tahu arti dari Bhineka Tunggal Ika adalah Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Akan tetapi arti dari Bhineka Tunggal Ika ini hanya ada di otak saja, bahkan hanya di telinga saja. Tidak sedikit yang mengatakan, "Bhineka Tunggal Ika? Sepertinya pernah mendengar kata-kata itu di suatu tempat". Sangat mengenaskan. Entah siapa yang berhak disalahkan, sistem pendidikan ataukah masyarakat itu sendiri.
Yang pasti, saya hanya bisa menghimbau lewat tulisan ini, para founding fathers memilih semboyan Bhineka Tunggal Ika agar masyarakat Indonesia sadar bahwa meskipun berbeda bahasa, suku dan ras tetapi kita masih di dalam satu atap, satu tanah air, Indonesia.
HIDUP INDONESIA! JAYALAH INDONESIAKU!
Saturday, December 22, 2012 | Labels: Uncategorized | 0 Comments
Perasaan
Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit. Kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat hatimu berubah cerah dalam sekejab padahal dunia sedang mendung. Dan dikejap berikutnya mengubah harimu jadi muram padahal dunia sedang terang benderang.
--Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah -- Tere Liye
Damn right! Rasanya, sudah cukup jelas quote di atas menjelaskan tentang pengaruh perasaan terhadap hari-hari kita. Terkadang perasaan itu bisa membuat kita menjadi orang paling bersemangat di dunia, atau yang lebih dikenal dengan mood booster. Terkadang perasaan itu juga bisa membuat kita menjadi orang yang paling malas di dunia. Bahkan, perasaan juga bisa membuat kita tampak seperti orang paling bodoh di dunia. Apakah kita akan menyerah kepada perasaan ini? Yahh, faktanya, it can't be helped.
Thursday, May 10, 2012 | Labels: Uncategorized | 0 Comments
Kisah Bunga
![]() | ||
| Flower is sure beautiful, isn't it? |
Bunga itu mekar
Merah merona
Semerbak wangi menggoda
Bunga itu mengira
Dapat menarik banyak kumbang
Banyak kupu-kupu
Atau serangga indah yang lain
Tapi apa daya
Hanya satu kumbang yang sudi
Memakan madu
Bunga itu mengira
Kumbang itu terus memakan madunya
Monday, April 23, 2012 | Labels: Uncategorized | 0 Comments
"Kejutan" April
Assalamu'alaikum.
Kali ini saya akan menulis tentang bulan April yang penuh dengan "kejutan".
Menurut kalian apa sih kejutan itu? Sesuatu yang membuat terkejut? Ya iya lah, namanya juga kejutan. -_-
Ya kira-kira seperti itulah definisi "kejutan". Saya tidak akan berlama-lama membahas tentang arti kejutan ini. Akan tetapi saya akan membahas bulan April yang penuh "kejutan".
Mengapa bulan April? Ya, bulan April adalah bulan dimana aku dilahirkan di dunia sebagai manusia. Bulan dimana aku secara "resmi" menambah umurku. Di bulan ini, aku selalu mendapatkan banyak kejutan. Entah dari orang tua, saudara, sahabat, dan teman-teman. Seiring berjalannya waktu, ada "sesuatu" yang istimewa di ulang tahunku. Yang memberikan kejutan bukan lagi orang tua, saudara, sahabat, teman-teman, tetangga, anak tetangga, cicit tetangga #eh. Akan tetapi, Sang Pencipta-lah yang memberikanku "kejutan". Ya, Allah SWT sendiri lah telah memberikanku "kejutan". Yaa~ sebenarnya sih seluruh kejutan yang ada di seluruh bulan April adalah kejutan dari Allah SWT juga. Akan tetapi, aku rasa, untuk dua tahun terakhir adalah "kejutan" yang paling LUAR BIASA. Bagaimana bisa?
Oke kita flashback ke setahun yang lalu. Pada tanggal 28 April 2011 semua masih terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa di hari itu, atau bisa dikatakan tidak ada yang ingat bahwa saya besok akan berulang tahun (siapa aku? -_-). Semua berubah ketika negara api menyerang, eh apa-apaan ini? Maaf-maaf salah channel. Kembali ke laptop! Aduh, channel apa lagi ini? Terserah lah. Capek juga lama-lama. -_- Yang pasti semua berubah pada malam hari. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam. Aku ditimpa masalah keluarga yang menyebabkan aku hampir bunuh diri (ini serius). Entah bisikan darimana, bunyinya seperti ini, "Udah kamu loncat dari mobil aja. Ini semua salahmu. Kamu yang membuat mereka seperti ini. Ntar kan mereka jadi iba liat kamu terluka, baru deh mereka baikan". Sumpah Demi Allah, aku mendengarkan bisikan setan itu berputar-putar di kepalaku. Na'udzubillahi min dzaalik. Memang masalah itu terjadi karena aku. Akan tetapi.... Ya~ sudahlah. Banyak pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Banyak pelajaran yang mendewasakan aku pada akhirnya. Ya, "kejutan" dari Allah SWT ini lebih dari cukup, mendewasakan hamba-Nya yang masih terlalu kekanak-kanakan. Kata orang, sweet seventeen adalah momen yang sangat krusial dan perlu dirayakan secara besar-besaran. Bagiku, tidak perlu lah dirayakan secara besar-besaran, "kejutan" dari Allah SWT adalah sesuatu yang sangat besar. Toh percuma, dirayakan secara besar-besaran tetapi tidak tahu makna dari perayaan itu. Toh percuma umur saja yang "dewasa" tetapi otak tidak cukup "dewasa" untuk menghadapi dunia. Masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk dihindari.
Oke kali ini aku akan menceritakan tahun kedua. Ya, tahun ini. APAA? TAHUN INI!? *zoom in, zoom out* *ala sinetron* Memang sih, sedikit mencengangkan (sebenernya gak juga). Akan tetapi, inilah yang benar-benar terjadi. Lagi-lagi Allah SWT memberiku "kejutan". Aku kemalingan. Handphone, jam tangan dan uang 50 ribuku raib. Selain itu, 5 handphone milik keempat temanku juga raib. Oh iya, saat ini aku tinggal di Makassar untuk menuntut ilmu. Aku tinggal bersama anak-anak kediri yang entah darimana aku mengenal mereka (mungkin takdir yang mempertemukan kita). Kami tinggal di garasi, yang bisa disebut dengan "kontrakan". Yah~ namanya juga anak rantau, harus bisa hidup hemat dan sederhana. Kontrakan kami terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua kami "sulap" menjadi kamar dan lantai ketiga adalah tempat jemuran. Sudah empat bulan lebih kami tinggal di kontrakan ini. Otomatis, semua yang dilakukan sudah menjadi kebiasaan kami selama berada di Makassar. Seperti, mengunci pagar, cuci piring sendiri, cuci baju sendiri, dan tidak mengunci pintu lantai dua. Kebiasaan yang terakhir aku sebutkan tadi membawa malapetaka bagi kami. Kami lupa bahwa kami ada di daerah orang. Kami lupa bahwa kami adalah tamu di daerah ini. Kami terlena dengan semua itu. Pada saat kami terlelap, maling bangsat itu masuk melalui pintu yang tidak pernah terkunci selama 4 bulan ini dengan cara memanjat atap kontrakan kami. Ia mengambil satu per satu handphone yang nampak oleh mata bangsatnya. Sebenarnya ada satu temanku yang terjaga pada saat itu. Akan tetapi, temanku ini tidak berani berteriak atau tenggorokannya tercekat karena melihat maling itu atau bagaimana saya tidak tahu. Yang pasti dia tidak berteriak pada saat melihat maling itu dari belakang. Temanku baru sadar sepenuhnya ketika maling itu sudah melompat dari atap. Ya, bisa ditebak cerita lanjutannya. Teman satu kontrakanku semuanya bangun, lalu memeriksa handphonenya masing-masing. Aku juga mencari handphoneku dan hasilnya.... Damn! Goddamn It! Handphoneku raib! Jam tanganku raib! Uang 50 ribuku ikut raib! "Untung" "hanya" lima puluh ribu rupiah yang ada di dompetku. Coba, ada 200 ribu rupiah, bisa dipastikan aku tidak makan pada hari itu. Beruntunglah teman-temanku yang tidak kehilangan handphonenya. Yah~ memang beginilah kenyataannya. Banyak dukungan moral yang diberikan kepada kami yang kehilangan handphone. Ada yang bilang, "Yang sabar ya". Ada juga yang bilang "Mungkin mas infaqnya masih kurang". Ada lagi yang bisa-bisanya bilang "Kapok!", kalau yang ini aku udah gak heran. Bawaannya kepingin berantem melulu kalau deket-deket orang yang bilang kapok ini. Yah~ inilah tamparan untuk kami. Tamparan dari Allah SWT untuk kami. Akan tetapi, aku tak bisa menyebut ini "tamparan", aku lebih suka menyebutnya "kejutan". Ya, kejutan yang mengejutkan, tidak dapat diduga-duga. Jelaslah "kejutan" ini membuat aku dan teman-teman satu kontrakanku lebih dewasa dan lebih waspada. Jelaslah hal ini mengingatkan kami bahwa kami hidup di negeri orang.
Ya, kedua peristiwa ini menyadarkanku. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa adanya hikmah. Bahkan daun yang jatuh berguguran pun memiliki hikmah atau pelajaran tersendiri.
Ya, kedua peristiwa ini menyadarkanku. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa adanya hikmah. Bahkan daun yang jatuh berguguran pun memiliki hikmah atau pelajaran tersendiri.
Wallahu a'lam bisshowaf.
Friday, April 20, 2012 | Labels: Uncategorized | 0 Comments
PERGI! (KENANGAN YANG TERSISA)
Entah sejak kapan aku menjadi secengeng ini. Entah kapan terakhir kali aku menangis. Entah kapan terakhir kali aku bersedih. Air mata ini mengalir begitu saja, tanpa bisa kukendalikan. Dadaku terasa penuh dan sesak. Entah perasaan apa lagi yang memenuhi dadaku. Yang pasti perasaan ini sudah cukup memenuhi dadaku.
Padahal baru saja kau datang kepadaku dengan senyummu yang ramah. Padahal baru saja kau menjawab salamku, menyapaku dengan sapaan tulusmu. Padahal baru saja kau meminta maaf kepadaku. Semua terasa begitu cepat. Semua terjadi begitu saja, tanpa terasa.
****
SMA!
Setelah melalui masa “membosankan” selama 3 tahun, akhirnya! Selamat tinggal putih biru! Selamat datang putih abu-abu!
Masa “yang katanya” masa yang paling indah. Masa yang tidak akan terlupakan. Masa dimana mulai mengenal wanita. Masa dimana persahabatan terasa sangat kental.
Aku sih biasa saja menghadapi isu-isu tersebut. Lebih tepatnya tidak acuh terhadap isu tersebut. Ahh, toh semua itu hanya isu. Masa bodoh!
****
Hari ini adalah hari Selasa. Pelajaran perdana pada hari ini adalah matematika. Entah mengapa, aku suka sekali pada pelajaran ini mulai dari Sekolah Dasar (SD). Mungkin sudah menjadi bakat yang diturunkan oleh ibuku kepadaku. Akan tetapi, bakat ini tidak membuatku rileks di pelajaran pertamaku ini. Mungkin karena ini merupakan pelajaran pertamaku pada tahun pertamaku ini. Yah- beginilah aku.
Pelajaran logaritma adalah pelajaran perdanaku. Kelasku dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Terus terang, tak ada sama sekali yang kukenal dari teman satu kelompokku itu. Aku coba untuk membaur dengan mereka, meskipun sifat “malu-malu”ku masih sangat terasa. Aku beranikan memperkenalkan diriku sendiri, lalu yang lain mengikuti. Akan tetapi, ada teman satu kelompokku yang terlihat enggan memperkenalkan diri. Dia adalah seorang perempuan. Pada saat itu, aku tak berani memandang wajahnya. Terus terang, aku akan sangat bodoh apabila sudah berhadapan dengan perempuan. Entah seperti apa wajahku pada saat itu. Kulihat tulisan nama yang terpampang di kerudungnya. Nina. Hanya nama depannya saja yang kuingat pada saat itu karena kupikir itu adalah nama panggilannya.
****
Memori masa itu tiba-tiba menyeruak tidak seronok keluar dari kepalaku. Seakan-akan tidak mampu lagi ditahan di dasar hati yang paling dalam. Memori ini hanya membuatku semakin sesak. Memori yang yang menceritakan tentang pertemuan awalku dengannya. Memori yang menceritakan tentang love at first sight.
Tak terasa air mataku mengalir lagi. Sial! Bisakah kau berhenti menangis! Menangis pun tak berguna! Toh, tidak ada yang berubah. Aku mengumpat-umpat diriku sendiri yang tidak bisa memaafkan kepergiannya, tidak bisa menerima kenyataan. Aku tak bisa kehilangan dirinya. Aku tidak bisa kehilangan senyumannya, untuk selamanya.
****
Tak terasa sudah tiga bulan aku duduk di SMA ini. Semua berlalu begitu cepat. Ulangan demi ulangan, remidi demi remidi, berlalu begitu cepat. Akan tetapi, dunia terasa sangat lambat apabila aku berada di dekatnya, di dekat Nina. Wajahnya yang teduh, senyumannya yang mendamaikan hati, tingkah lakunya yang feminin, tidak bisa lepas dari pandanganku. Semuanya selalu membekas di dasar hatiku. Apakah aku jatuh cinta? Who knows?
Aku tak berani memandangi wajahnya yang teduh itu terlalu lama. Jujur saja, mukaku akan langsung “tak berbentuk” jika berhadapan face-to-face dengan wanita manapun. Apalagi dengan dia, Nina. Aku hanya berani memandangi punggungnya yang tertutup oleh kerudungnya sambil membayangkan wajahnya yang tersenyum teduh kepadaku. Aku alihkan pandanganku sejauh-jauhnya ketika dia menyadari bahwa aku sedang memandanginya.
Pernah suatu saat, aku memandangi punggungnya dari belakang. Tiba-tiba, ia mengalihkan pandangannya kepadaku. Langsung saja aku bertingkah seakan-akan membaca buku yang ada di hadapanku, pura-pura membaca. Dia jalan mendekat ke arahku. Mati aku! Dia tahu apa yang kulakukan, umpatku dalam hati. “Dik, bisa pinjam catatan matematika kemarin?.” Eh? Alhamdulillah dia tidak tahu apa yang kulakukan barusan, ucapku lega dalam hati.
****
Sampai saat ini aku tak tahu, apakah dia tahu apa yang kulakukan saat itu. Memandangi punggungnya, sambil membayangkan wajahnya yang teduh tersenyum kepadaku. Aku tak pernah tahu hingga saat ini. Entah, semuanya sudah terlambat atau kita tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu. Kau selalu datang di saat yang tidak tepat.
Kupandangi langit yang tidak ada batas. Hanya senyum sinis rembulan yang terbersit di langit malam ini. Senyuman rembulan itu seakan-akan menghinaku habis-habisan dari tempat yang jauh. Hei kau! Sedang apa kau disitu? Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri, bodoh!
Air mataku meleleh lagi. Sial! Berhenti menangis! Dia tidak ingin kau bersedih seperti ini, pikirku sejenak. Ahh, mana mungkin dia berpikir seperti itu. Menghiraukanmu saja tidak, kata pikiranku yang lain. Diamlah! Tidak penting, dia peduli atau tidak. Yang pasti dia sangat membutuhkan doa kita, ujar pikiranku yang lain menengahi.
****
Satu semester terlampau sudah. Semua nilai pelajaran sudah ditumpahkan ke dalam raport. Nilaiku sih tidak seberapa bagus di bidang IPS maupun IPA. Entah mengapa pelajaran IPS selalu membuatku malas. Malas menghafal, malas mengerjakan soal sampai malas mengerjakan tugas-tugas pelajaran IPS. Pada bidang IPA, nilai biologiku adalah nilai yang terjelek di dalam raportku kali ini. Pelajaran hafalan membuatku muak. Tidak ada hitungan sama sekali. Entah ini yang disebut bakat atau apa. Yang pasti aku selalu malas dihadapkan dengan pelajaran hafalan.
Selepas semester satu ini, aku tak pernah memikirkan Nina lagi. Dia sudah dengan yang lain dan itu sahabatku sendiri. Sangatlah tidak mungkin menyukai perempuan yang sama dengan sahabatku sendiri. Namun, kekagumanku tetap sama seperti awal pertemuan. Kagum akan kelembutannya, kagum atas senyuman teduhnya, dan kagum atas kepribadiannya.
Selama satu semester ini, ternyata juga ada yang menyimpan perasaan kepadaku, yang pasti bukan Nina. Dia teman sekelasku. Dia yang menyatakan cintanya kepadaku. Aku yang baru pertama kali “ditembak” oleh seorang perempuan, bingung harus menjawab apa, harus berkata apa. Damn! Apakah dia benar-benar mencintaiku? Apa sih cinta itu? Untuk apa bocah ingusan seperti aku dan dia harus mencinta? Apakah mencintai berarti berpacaran? Sebenarnya, apa yang dia sukai dari seorang bocah ingusan semacam diriku? What are true lovers mean?
****
Langit pun ikut menangis. Air mata sang langit jatuh membasahi bumi seketika. Seakan mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Aku yang sedari tadi duduk di teras rumahku, tidak bergeming melihat hujan itu. Entah aku sedang menikmati suara hujan yang mendamaikan atau menerawang jauh kesana. Membayangkan, sedang apa dia disana? Apakah dia bahagia? I hope so.
Aku tetap merenung menatap air hujan yang tak ada hentinya jatuh ke permukaan bumi. Membasahi semua yang menghalangi air hujan untuk menuju bumi. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku bingung sekaligus menjadi linglung seketika. Mengapa tidak aku balas saja sms terakhirnya itu? Mengapa aku tak bisa memaafkannya pada saat itu? Aku memaafkanmu dari lubuk hatiku yang paling dalam, Nina, bisikku lirih.
****
Tahun pun berganti tahun. Aku mulai melupakan Nina. Memang tak bisa kupungkiri aku masih mengaguminya. Akan tetapi, dia sudah bersama dengan orang lain, sahabatku sendiri. Kita terpisahkan oleh kelas. Nina tak lagi teman kelasku. Sepertinya ada pengacakan di tahun keduaku ini. Hanya beberapa anak yang berasal dari kelasku, yang lainnya berasal dari kelas-kelas yang lain. Aku terasing? Tidak! Aku dipertemukan oleh sahabat kecilku. Reza. Dia memang sahabat kecilku yang tidak pernah berubah hingga kini. Tetap baik kepadaku. Selain itu, sahabatku yang “kutemukan” di tahun pertamaku juga menjadi teman sekelasku tahun ini, yaitu Nurul.
Ada ”keajaiban” yang terjadi di tahun kedua ini. Aku ditunjuk menjadi ketua kelas! Apa lagi ini? Jujur, aku memang senang mengikuti kegiatan-kegiatan, tetapi aku paling malas ditunjuk menjadi ketua. Akan tetapi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Yah- aku “terpaksa” menjalaninya sekuat tenagaku.
Di tahun keduaku ini, di tahun pertamaku memimpin kelas ini, terjadi banyak kejadian yang tak terlupakan. Teman-teman baruku ini mulai menunjukkan “kulit”-nya masing-masing. Terlihat jelas, bagaimana watak dan perangai mereka. Kelasku ini menjadi tidak kompak. Semua sibuk mengejar nilai masing-masing demi mengejar PMDK “yang semu”. Ada lagi yang mencari gara-gara dengan menghina semua anak yang ada di kelasku. Entah, apa ini kesalahanku atas kepemimpinanku atau teman-teman yang terlalu egois dan keras kepala. Yang jelas, aku bisa disebut “gagal” dalam memimpin teman-temanku.
***
Kurasakan bibirku membentuk senyuman yang agak dipaksakan karena mengingat masa kepemimpinanku pada saat SMA. Memang anggota kelasku seperti memberikan “mosi tidak percaya” padaku. Pasalnya, aku memang tipe orang yang tidak ingin repot. Tunggu dulu. Tidak ingin repot? Mengapa aku menolongnya saat itu? Mengapa aku bertingkah bak malaikat penolong saat dia (mungkin) tidak membutuhkan pertolongan?
Aku menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak yang mulai menjalari nafasku. Sudahlah, dia sudah ada di dunia yang tidak mungkin aku sampai kepadanya kecuali mengalami hal yang sama dengannya. Mati.
***
Lagi sibuk?
Kata-kata yang kukirimkan kepada Nina dalam bentuk pesan singkat atau yang biasa disebut Short Message Service (SMS).
Tidak lama kemudian ponselku berdering tanda ada pesan singkat yang masuk.
Enggak kok. Ada apa?
Ehmm, gini Nin. Aku mau minta tolong, bisa?
Kuketikkan kata-kata yang sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan Nina. Aku tidak ingin menyinggung perasaan orang, apalagi perempuan.
Oke, apa yang bisa aku bantu?
Bisa titip print tugas fisika untuk besok? Maaf ya sudah merepotkan. Balasanku terhadap pesan singkat Nina.
Oke, kirimin lewat e-mail aja ya. Aku tunggu sampai jam 9. Oh iya, boleh tanya gak?
Kubaca pesan singkat dari Nina lekat-lekat. Dia ingin bertanya? Tentang apa ya kira-kira? Jari-jariku bergerak secara spontan untuk merespon pesan singkat tersebut.
Terimakasih ya Nin. Kamu memang baik. Aku minta maaf ya kalau sudah merepotkanmu. Boleh, mau tanya apa?
Oh iya, sama-sama ya Dik. Enggak merepotkan kok Dik. Tenang saja. Kamu sebenarnya naksir siapa sih?
Degg. Mati aku! Pikirku. Jawaban apa yang harus kuberikan? Memang aku dengan Nina sudah sangat dekat sehingga tanpa malu menceritakan kehidupan pribadi masing-masing, termasuk masalah cinta. Akan tetapi, mengapa pertanyaan ini muncul begitu saja dalam pikiran Nina? Nina tidak salah, aku lah yang seharusnya salah. Sudah mencintai Nina.
Ingin kuketikkan Sebenarnya, kamu lah yang aku sukai. Akan tetapi, kuurungkan niatku. Aku tak ingin mengganggu konsentrasinya dan konsentrasiku sendiri dalam menghadapi Ujian Nasional nanti. Karena Ujian Nasional inilah yang menentukan nasibku kelak, lulus atau tidaknya aku dari SMA ini.
Ahh kamu. Mau tau saja. Nanti saja setelah semuanya beres, pasti aku kasih tau.
Entah apa yang ada di kepalaku pada saat itu. Semua terjadi begitu saja. Jari-jariku bergerak tanpa aku sadari.
Ohh, ya sudah kalau begitu.
***
Seketika leherku serasa tercekat. Nafasku sesak untuk sekian kalinya. Tubuhku lemas seakan akan tak sadarkan diri. Air mataku meleleh lagi mengingat hal bodoh yang sudah aku janjikan kepadanya. Janji mengatakan yang sebenarnya. Aku Cinta Kamu.
Apakah tiga kata ini akan ditagih pada saat hari pembalasan nanti? Ya Allah, saya mohon ampun. Ampunkanlah dosa-dosa saya. Air mataku meleleh lagi tetapi kali ini leherku tidak tercekat lagi dan nafasku kembali normal. Hamba ingin mengatakannya tetapi… tetapi…
Ampunilah hamba ya Allah…….
***
Hujan mulai reda. Matahari mulai menampakkan wujudnya meskipun setengah malu-malu dari balik awan gelap. Burung-burung mulai bernyanyi kembali. Anak-anak kecil yang sedari tadi berada di rumah mereka masing-masing sudah mulai berhamburan keluar lagi untuk bermain bersama-sama.
Ya Allah, inikah kebesaran-Mu. Engkau menciptakan segala sesuatumnya secara berpasang-pasangan. Ada gelap, ada terang. Ada hitam, ada putih. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada hidup, ada mati. Ada sedih, tentu ada bahagia.
Awan hitam mulai menghilang. Mungkin inilah saatnya melupakan kesedihanku laksana hilangnya awan gelap yang menyelimuti seantero bumi ini. Mungkin inilah saatnya aku memandang masa depan yang tentunya menyenangkan. Ya, harapan itu masih ada selama aku masih hidup di bumi ini. Aku harus bisa melakukan yang terbaik di bumi ini. Selamat tinggal Nina, semoga amal dan ibadahmu diterima di sisi Allah. Semoga kita dapat bertemu di surga Allah kelak untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadapmu. Semoga janjiku yang belum sempat aku tepati dapat di maafkan oleh Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Saturday, April 07, 2012 | Labels: Cerpen | 0 Comments
Pergi!
Hari ini mungkin adalah hari terburukku. Sepeda motorku yang baru saja aku beli sekitar dua bulan yang lalu, tiba-tiba mogok di tengah jalan. Saat sampai di sekolah, tak sengaja aku menabrak guru. Dan tebak siapa yang aku tabrak. Pak Parno! Guru yang paling ditakuti di sekolah ini. Memang sih aku sudah tidak menjadi siswa sekolah ini, tetapi "aura pembunuhnya" masih terasa menusuk dada.
"Maaf Pak. Saya tidak sengaja. Saya sungguh menyesal Pak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menabrak......"
"Sudahlah Nak. Tidak apa-apa. Bapak tidak apa-apa. Sekolah dimana sekarang kamu Mas?"
Mendengar reaksi Pak Parno itu, aku hanya bisa tertegun bergeming. Terjadi keheningan sejenak, sebelum Pak Parno mengagetkanku.
"Nak, ditanya kok malah melamun."
"Oh iya Pak. Maafkan saya Pak. saya hanya pangling melihat Bapak. Alhamdulillah ITS pak. Jurusan Sistem Informasi."
"Oh, alhamdulillah. Pangling kenapa Nak?"
"Ehmm. Tidak Pak. Penampilan Bapak sangat berbeda dengan penampilan 3 tahun yang lalu."
"Hahaha. Berbeda apanya Nak. Saya tidak merasa berbeda. Seperti inilah aku."
"Hehehe. Iya Pak. Aku duluan ya Pak. Sudah tidak tahan ini. Mau ke kamar mandi,” aku tak tahu mengapa aku mengatakan ingin ke kamar mandi. Aku tidak benar-benar kebelet. Aku hanya mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi banyak perbincangan dengan Pak Parno. Malas.
"Oh iya Nak. Silakan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
****
"Assalamu'alaikum...."
Belum sempat aku menyelesaikan salam, seorang perempuan yang sedang duduk di ruang tamu menjawab salam aku sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam."
Sepertinya aku pernah melihat perempuan ini. Apakah dia perempuan dari masa lalu? Atau hanya sekedar tamu Ibu yang lainnya? Terjadi keheningan sesaat. Mungkin, karena kami berdua saling menerka-nerka. "Siapa ya nama orang ini?"
Sial! Perempuan ini memang dia! Seseorang dari masa lalu! Seseorang yang ingin kuhapus eksistensinya dalam pikiranku. Akan tetapi, mengapa dia tiba-tiba muncul di hadapanku? Yang lebih mengherankan lagi, sejak kapan ia menjadi peduli kepadaku? Sejak kapan ia peduli membalas salamku?
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya perempuan yang bernama Nina ini, sambil melempar senyum bersahabat.
"Baik," jawabku dengan muka datar.
Aku tak tau harus berkata apa. Aku tak tau harus senang ataupun benci. Senang karena akhirnya aku bertemu dengan dia lagi. Benci karena bertemu dengan seseorang yang telah menggoreskan catatan kelam di dalam lembar hidupku.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Nina lagi.
"Perempuan ini, mengapa menjadi ramah seperti ini? Mengapa tidak daridulu kau ramah seperti ini?," gerutu aku di dalam hati.
"Dik?," tanyanya penasaran.
"Oh, maaf. Alhamdulillah baik-baik saja," jawabku masih dengan muka datar.
"Bagaimana, sudah punya cewek?," tanyanya lagi seakan-akan ia tidak memperbolehkanku untuk melepas jaketku.
"Hei! Apa maksudmu bertanya seperti itu?," jawabku dengan nada meninggi. Entah mengapa aku merasa tersinggung dengan pertanyaan itu.
"Ehmm, maaf. Maafkan aku," jawabnya dengan muka bersalah karena takut membuatku tersinggung.
Mengapa semua ini terbalik? Bukannya aku yang selalu minta maaf dan dia selalu marah kepadaku? Aku yang semakin tidak mengerti ini, langsung mengambil langkah seribu ke dalam kamarku yang letaknya kira-kira 2 meter di sebelah kanan ruang tamu.
"Dika!"
Tidak kuhiraukan suara perempuan itu. Aku tetap berjalan setengah berlari menuju kamarku yang terletak di sebelah kanan ruang tamu.
Bruaakkkk!
"Astaghfirullah!," ujar Nina setengah terkejut.
"Sudah, Nak Nina. Dika memang suka begitu sepulang sekolah. Maafkan Dika ya," kata Ibuku yang tiba-tiba ada di sebelah Nina.
"I..Iya Bu. Aku tidak apa-apa kok," jawab Nina sambil mengatur nafas akibat gebrakan pintu tadi.
"Silakan diminun tehnya. Keburu dingin lho," kata Ibu seolah menenangkan Nina yang masih terkejut.
"Oh iya Bu. Maaf lho Bu, aku merepotkan Ibu," uar Nina sambil meminum teh yang sudah agak hangat.
"Ahh tidak apa-apa Nak Nina. Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Nak Nina datang kesini?"
"Oh, tidak ada apa-apa. Aku hanya kangen bertemu dengan Ibu setelah hampir 4 tahun tidak bertemu," jawab Nina.
"Oh, aku juga kangen dengan Nak Nina. Sudah lama tak bertemu, eh, besar-besar masih tetap cantik," pujian Ibu yang ini membuat muka Nina seketika memerah.
"Ahh, Ibu bisa saja. Oh iya Bu, aku pamit dulu ya Bu. Kapan-kapan kita sambung lagi percakapan ini. Aku mau ada meeting sekitar jam 11," kata Nina sambil beranjak dari tempat duduk.
"Lho kok tergesa-gesa begitu. Iya sudah, ibu juga mau melanjutkan masak," jawab Ibu dengan nada yg hangat.
"Hehe, iya Bu. Maaf lho Bu, sudah mengganggu pagi-pagi begini."
"Halah, tidak apa-apa Nak Nina. Ibu juga kangen dengan Nak Nina."
"Yasudah Bu, aku pamit dahulu. Assalamu'alaikum," pamit Nina sembari mencium tangan Ibu.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya Nak."
"Iya Bu," ucap Nina sambil berlalu.
*****
Handphone aku tiba-tiba berdering. Aku ambil handphone aku tepat di bawah bantal aku. Ada SMS, gumamku. Nomor yang tidak dikenal.
Assalamu'alaikum Andi. :)
Pesan itulah yang terpampang di layar handphone aku. Dengan sigap aku balas.
Siapa?
Handphone aku berdering lagi.
Nina.
Maaf mengganggumu tadi dan sekarang.
Tak kuhiraukan sms Nina yang terakhir ini. Ahh perempuan ini mengganggu saja! Gerutuku dalam hati, sambil kupasang headset favotitku yang berwarna putih. Kumainkan lagu-lagu Paramore, salah satu band favoritku.
Belum selesai lagu Ignorance menghentak di telinga, handphoneku berdering lagi. Kuambil handphoneku dengan malas. Pasti anak itu lagi!
Aku minta maaf ya.
Aku tetap tidak menghiraukannya. Aku tetap tidak membalas smsnya. Malas. Terlambat sudah. Dia berubah disaat aku sudah tak tertarik lagi padanya. Entah benar-benar 'berubah' atau hanya perasaanku saja. Yang kutahu dia sangat berbeda dengan dia pada saat menjadi siswi putih abu-abu. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Entah apa yang kupikirkan pada saat itu. Dia berasal dari keluarga yang terbilang ‘berlebihan’ dan aku hanyalah anak yang terlahir di keluarga yang biasa saja. Bisa dibilang dia adalah anak yang cuek dengan keadaan sekitar. Selalu saja dia sibuk sendiri mengerjakan sesuatu, tidak menghiraukan yang lain.
Sial! Dia mulai ‘meracuni’ pikiranku! Enyahlah! Gerutuku dalam hati.
Kunyalakan headsetku keras-keras. Kuputar lagu Avenged Sevenfold, salah satu band metal asal Amerika yang menjadi favoritku. Aku ingin melupakan dia. Membuang jauh-jauh semua tentang dia. Memang sih semua dapat kulakukan. Akan tetapi, ada satu hal yang sampai saat ini tak bisa kubuang. Senyumnya. Entah mengapa, aku sangat tertarik pada senyumnya. Mungkin dia terlihat cuek pada sekitar, tetapi senyumnya dapat ‘menutupi’ kecuekannya.
Senyum itu lagi! Enyahlah! Gerutuku semakin keras.
****
Mengapa Dika berubah menjadi seperti itu ya? Dika yang kutahu adalah Dika yang baik, sabar, dan murah senyum. Akan tetapi mengapa dia menjadi seperti itu? Sejak kapan dia menjadi seperti itu. Memangnya apa salahku?
Sambil melesakkan mobilnya, Nina terus memikirkan Dika. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Dika.
Aku minta maaf ya.
Sambil menyetir, Nina sempatkan untuk mengirim pesan kepada Dika. Pesan yang berisi permintaan maaf yang tulus. Meskipun tak tahu Dika menerima maafnya atau tidak, Nina tidak peduli. Nina hanya bisa meminta maaf yang entah mengapa meminta maaf bisa membuat hatinya lebih tenang. Tak ada yang tau bahwa itu adalah sms Nina yang terakhir. Permintaan maaf yang terakhir sebelum pergi. Pergi untuk selamanya.
****
Aku terbangun oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela. Astaghfirullah! Aku kesiangan!
Langsung kuambil wudhu, dan langsung melaksanakan sholat subuh. Ini tidak biasa. Seriap hari aku selalu bangun sebelum subuh. Baru kali ini aku bangun sesudah matahari terbit. Ada apa ini? Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini.
Aku ambil handphoneku yang terletak di meja sebelah kanan kasurku. Entah mengapa kulakukan hal ini. Mungkin sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi setelah bangun tidur.
Kulihat layar handphoneku. Ternyata ada sms yang dikirim sekitar jam 2 pagi.
Maafkan aku ya.
Orang ini lagi. Sudahlah! Gerutuku dalam hati. Bisakah dia tidak menggangguku?
Aku keluar dari kamar menuju ruang tamu yang terletak di sebelah kiri untuk menonton TV. Hal ini pun secara spontanitas begitu saja. Rasanya seperti digerakkan oleh Sesuatu Yang Maha Besar.
Belum sampai ruang tamu, aku mendengar suara tangis yang terdengar tidak jauh dari ruang tamu. Kutelusuri suara tangisan itu. Suara tangisan yang tidak asing lagi. Tangisan ibu yang sudah melahirkan dan memesarkanku. Tangisan ibuku.
Ada apa ibu menangis? Apa ada yang menyakitinya? Apa aku yang membuatnya menangis?
"Nina..... Nak..... Nina.....", ibu mulai berbiara sambil sesenggukan yang sedikit menyesakkan dada.
"Ada apa Bu? Ada apa dengan Nina?," meskipun aku tak peduli apa yang terjadi padanya. Aku ingin membuang jauh-jauh memori tentang dirinya.
Ibu diam sambil sesenggukan. Tidak menjawab apa yang terjadi sesungguhnya. Ibu malah menyodorkan koran.
Seorang Wanita Tewas Secara Tragis
Seorang wanita yang berinisial Nn (20), tewas di tempat akibat kecelakaan. Kejadian terjadi sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian seorang sopir truk yang mengantuk. Menurut saksi, mobil hitam yang dikendarai Nn melaju dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Lalu dari arah berlawanan, datang truk yang melaju sekitar 60 km/jam dengan cara mengemudi yang aneh........
Tak terasa air mataku meleleh sampai ke pipi. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Sesak sekali. Ketidakpedulianku tiba-tiba hilang seketika. Kebencianku yang memuncak pada saat itu, tiba-tiba hilang entah kemana. Hanya menyisakan rasa sesak dan sakit di dada.
Mengapa kau pergi begitu cepat? Padahal baru saja kau peduli padaku. Padahal baru saja kau tersenyum padaku. Air mataku meleleh lagi.
Wednesday, January 18, 2012 | Labels: Cerpen | 0 Comments
Subscribe to:
Comments (Atom)
Label
- Cerpen (2)
- Uncategorized (6)
About Me
- Adnyana Satrio
- Hello cold world! I'm Adnyana. 17 years old. Ready to subjecting the world!
Blogroll
Label
- Cerpen (2)
- Uncategorized (6)





