Sekedar Berbagi Cerita
Assalamu'alaikum. Salam Olahraga! Eh, salah. Selamat malam (soalnya dapet inspirasinya malem-malem)
Terimakasih atas kesempatan yang diberikan (kayak presentasi aja). Perkenalkan, nama saya Eed. Jangan pernah mengganti huruf "d" dengan huruf "k", karena akan membentuk kata *tiiiit* *sensor*.
Saya akan menceritakan pengalaman saya selama hidup menjadi anak SMA hingga seperti sekarang ini.
Ehem, ceritanya dimulai dari.....
Awal Kelas XII
Dari awal kelas XII saya sudah mencanangkan target yang akan saya capai. Saya tuliskan target-terget itu di notes kecil bekas kalender yang saya temukan di ruang tamu. Jujur, saya tidak ingin seorang pun tahu apa target-target saya, karena saya ingin itu menjadi hadiah terbaik bagi orangtua saya. Selain itu, banyak riset yang sudah membuktikan bahwa impian yang ditulis lebih banyak yang tercapai.
Ehemm, kembali ke cerita. Saya tuliskan beberapa impian saya disana.
Kira-kira isinya seperti ini:
1. Masuk PTN favorit tanpa membebankan orangtua (ITS, ITB, STAN)
2. Masuk 10 besar (Okee, yang ini masih belum terwujud hingga kini)
3. Menghilangkan sifat-sifat jelek yang ada dalam diri ini (yang ini juga belum terwujud, tetapi masih diusahakan hingga kini)
Sisanya saya lupa, karena notes itu sendiri sudah robek tak berbentuk. -__-
Pertengahan Kelas XII
"Petaka" dimulai pada saat pertengahan kelas XII. Jujur saja, pada saat itu saya menganggap pelajaran non-IPA itu TIDAK PENTING. Kemalasan saya mencapai puncaknya ketika menghadapi buku-buku non-IPA itu. (Don't try this at home!)
Yahhh, apa yang kita petik tidak jauh dengan apa yang kita tanam. Kita menanam buah jeruk, otomatis kita akan memetik jeruk. Saya sudah "menanam" kemalasan, otomatis saya akan "memetik" kegagalan. Saya gagal masuk SNMPTN undangan. Syarat mengikuti SNMPTN undangan adalah minimal peringkat 75% di kelas.
Masya Allah. Saat itu saya sangat kecewa sekali. Saya tidak sadar diri, bahwa saya sendirilah yang patut disalahkan atas semua ini. Saya sendirilah yang telah membentuk kegagalan itu. Namun, saya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Saya harus bangkit!
Menjelang UNAS
Setelah saya mendapatkan "pecutan" dari Allah, saya menjadikan UNAS sebagai tempat "membalas dendam". Saya belajar sangat keras, bahkan saya tidak memberikan ruang bagi diri saya untuk bersantai-santai. Saya ikuti les sana-sini hingga tak mengenal malam minggu (eciyeee ngapain mikir malam minggu? -_-)
UNAS
Jeng jeng! Tibalah saatnya UNAS. Momok seluruh siswa SMA itu akhirnya datang jugaa! Saya sih tidak terlalu tegang menghadapinya (bohong banget -_-). Saya sudah berdo'a dan belajar sekuat tenaga, insya Allah hasilnya memuaskan.
Pengumuman UNAS
Dag dig dug duer! Terus terang, pada saat itu siswa SMA-ku (tidak mau nyebut merek) megap-megap. Soalnya, banyak anak dari SMA lain yang sudah terima nilai UNAS sedangkan siswa SMA-ku tidak tahu apa-apa. Galau siswa SMA-ku saat itu mungkin setara dengan galau sesorang yang menunggu balasan sms dari yang dicinta #eaaa. Alasan sekolah untuk menunda pengumuman adalah menghindari euforia kelulusan yang berlebihan. Akan tetapi, alasan itu tampaknya sedikit kurang tepat melihat SMA-ku adalah SMA favorit di daerah saya (bukannya sombong).
Tidak tahan menunggu, abi (begitu biasanya saya memanggil ayah) langsung menelepon bagian Tata Usaha. Beliau menanyakan nilai UNAS saya. 51,70. Bukan nilai yang jelek, bukan pula nilai yang bagus. Yahh, akan tetapi cukup mengecewakan dibandingkan dengan yang lain.
Sekali lagi, saya belum bisa membanggakan orangtua saya.
Masa "menganggur" menunggu SNMPTN tulis
Belaaajjjaaaaaarrrrr! Gak boleh mengecewakan orangtua lagi! Setidaknya saat ini saya harus menjadi "anak yang berguna" untuk orangtua saya. Bismillah saya bisa!
Kalimat-kalimat motivasi itu terus aku teriakkan di dalam hati. Kalimat-kalimat itulah yang menamparku ketika aku tidak sadarkan diri (baca : malas). Terus terang, pada masa-masa ini saya mengurangi jam tidur saya. Yang tadinya 8-9 jam/hari menjadi 4-5 jam/hari.
Saya keluar dari "zona aman". No pain, no gain. Saya percaya, berhasil tidak bisa didapatkan dengan mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan demi mencapai tujuan. Saya korbankan waktu dan masa muda (senang-senang).
Pada saat pemilihan universitas, saya sempat berbeda pendapat dengan umi (begitu saya memangggil ibu) saya. Saya ingin memilih STEI ITB, karena saya sudah memimpikan sekolah disana. Umi saya tidak ingin saya kesana, karena tujuan utama saya adalah STAN. Akan sangat disayangkan sekali apabila saya melepas ITB demi STAN. Saya marah, kesal, kecewa terhadap umi saya. Eh, tiba-tiba umi mengusulkan Sistem Informasi ITS. Langsung saya iyakan, karena saya rasa Sistem Informasi ITS tidak akan jauh beda dari Teknik Informatika, idaman saya.
Saat SNMPTN
*Sigh* SNMPTN pun tiba. Berbekal do'a saya dan ibu saya di musholla kampus tempatku ujian, saya mantapkan hati. Saya masuki ruangan ujian. Saya coba melihat sekeliling. Mukanya serem-serem om! -___-
Bismillah saya bisa!
*coret-coret soal*
*bingung*
*untung gak pingsan*
Pengumuman SNMPTN
Ini cepat sekali ya, tiba-tiba sudah pengumuman. -____-
Katanya sih jam 19.00 pengumuman keluar, tapi ada yang sudah buka pukul 17.00 dan tahu hasilnya. Saya coba buka web SNMPTN sekitar jam 17.15, ternyata sudah tidak bisa! Sial!
Lagi-lagi galau pengumuman. -___-
Kali ini galau saya seperti seseorang yang handphone-nya tertinggal di rumah dan takut tidak bisa membalas sms dari yang dicinta. #eaaa
Kembali ke cerita....
Sambil menunggu pengumuman, saya sempatkan sholat isya' berjama'ah di masjid. Saya berdo'a agar diterima disalah satu pilihan SNMPTN pada saat itu.
Singkat cerita, saya pulang dari masjid dengan perasaan was-was dan sedikit optimis. Sesampai di rumah, langsung saya buka web SNMPTN. Dan hasilnyaaaa...........
#jeng jeng jeng
SELAMAT ANDA DITERIMA DI SISTEM INFORMASI ITS.
Tulisan itu tertera sangat besar di layar laptop saya. Ada rasa tidak percaya, saya baca ulang lagi. Ternyata benar! Seketika air mataku meleleh.
Ya Allah. Terimakasih ya Allah. Inikah jawaban atas do'aku selama ini? :')
Pelajaran
Di setiap peristiwa pasti ada pelajaran yang tersirat. Saya diterima di ITS bukan tanpa alasan. Saat sedang di kamar mandi (kamar mandi adalah tempat mencari inspirasi), say berfikir mengapa saya diterima di ITS. Saya buka-buka lagi notes "legendaris" saya. Saya baca berulang-ulang. Saya menyadari sesuautu! Ternyata, poin pertama dibalik 'masuknya saya di ITS'.
Diterima di PTN favorit tanpa merepotkan orang tua
Saya garis bawahi tanpa merepotkan orangtua. Pada saat itu, ITB tidak mengadakan USM ITB lagi, yang konon jalur mahal. Oleh karena itu, guna menutupi biaya, ITB "memukul rata" biaya, baik SNMPTN undangan maupun tulis, menjadi (menurut saya) sangat mahal. Penguman ini ada setelah SNMPTN tulis. Alhamdulillah, saya dihindarkan dari "merepotkan orangtua', meskipun sampai saat ini saya masih merepotkan mereka. Maafkan saya ya umi, abi, saya masih merepotkan kalian sampai saat ini.
Saya berjanji, saya akan membuat kalian bangga akan keberadaan saya!
Bismillah!
Friday, November 25, 2011 | Labels: Uncategorized | 0 Comments
Label
- Cerpen (2)
- Uncategorized (6)
About Me
- Adnyana Satrio
- Hello cold world! I'm Adnyana. 17 years old. Ready to subjecting the world!
Blogroll
Label
- Cerpen (2)
- Uncategorized (6)